Sekelumit Alasan Imigran Timteng Lari Ke Australia

PASURUAN – Seribu satu alasan barangkali dapat diungkap oleh para imigran gelap asal Timur Tengah, yang saat ini ‘terdampar’ di Indonesia.
Bahkan nyawa pun dipertaruhkan, seperti yang terjadi pada para imigran di perairan Prigi, Trenggalek beberapa waktu lalu, hanya demi alasan rasa aman dan memperbaiki nasib lebih baik hingga nekad lari dari Negara tempat mereka lahir, pergi ke negeri orang.
Salah satu imigran asal Afghanistan, Esmat Adine (24) yang termasuk korban dalam peristiwa kapal tenggelam di perairan Prigi, Trenggalek, mengungkapkan derita dan alasannya hingga ia harus lari menghindar dari gejolak sosial politik yang terjadi di negaranya.
 
Esmat Adine yang saat ini menjadi salah satu deteni (penghuni) Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Surabaya di Bangil, Kab Pasuruan tersebut mengungkapkan satu kenangan yang sampai kini tidak terlupakan pada saat di tahan sekitar 16 hari oleh Taliban yakni kala dipaksa untuk menembaki teman dan keluarganya menggunakan senjata api oleh tentara Taliban.
But I can’t do it (tapi saya tidak bisa menembak teman dan saudara),” ucap Esmat Adine mengenang kembali perlakuan tentara Taliban, dijumpai di Rudenim surabaya, Bangil, Rabu (28/12).
Hidup di negaranya, menurut laki-laki lulusan American Universitas di Kabul ini, sudah tidak lagi ada rasa aman, karena setiap detik dipenuhi dengan perang dan teror senjata api ataupun bom.
Warga Afghanistan yang dianggap bersinggungan dengan warna maupun fasisiltas-fasilitas milik Amerika dipastikan terancam hidupnya, seperti yang dialami Esmat karena bekerja sebagai ‘travel officer’ di USAID.
Ancaman dan teror yang bertubi-tubi itu menjadi pelecut, hingga setelah berhasil membebaskan diri dari penjara Taliban, Ia pun langsung meninggalkan kampung halamannya dengan impian hidup nan indah menuju Australia.
My country is very dangerous to live there, I want go to Australia (Negara saya sangat berbahaya untuk hidup, sehingga saya ingin pergi ke Australia),” katanya kemudian.
Ia pun meringkas cerita dalam perjalannya menuju Australia, terlebih dahulu harus transit di Jakarta, menunggu waktu pemberangkatan melalui laut, bersama ratusan imigran gelap asal timur Tengah lainnya pada bulan Desember 2010 lalu.
Dijelaskan bahwa agar bisa ke Australia dengan naik kapal, ia mengaku harus merogoh ‘kocek’ sebesar USD 4000 kepada seorang bernama Syekh Abbas.
Namun, impian hidup aman dan lebih baik di Australia musnah tersapu bersama tenggelamnya kapal yang membawanya diperairan Prigi, Ternggalek.
Selain hilangnya impian Australia, yang membuat dada Esmat kian sesak adalah karena ia tidak mengetahui nasib dan keberadaan anak tercinta dan saudara-saudaranya yang sebelumnya bersama dalam pelarian.
Saat ini ia hanya ingin menenangkan dan berusaha menata kembali anganan untuk hidup ke negeri kanguru seperti semula.
I have not family, for what I come back? (saya sudah tidak mempunyai saudara lagi, jadi untuk apa saya kembali ke Afghanistan?),” pungkas Esmat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s